MENGGUBAH TEMBANG JAWA DALAM BENTUK MACAPAT

02/04/2010

Oleh:

Suryanto

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Para pembaca dan Sutresna  Kebudayaan Jawa, tulisan ini saya susun karena ada pertanyaan pada saya setelah membaca blog ini, dan pertanyaannya itu kemudian disampaikan di Facebook. Salah satu pertanyaannya adalah bagaimana cara kita membuat tembang jawa dalam bentuk macapat?

Hal yang harus dipahami:

1. Watak tembang: berhubungan dengan pemilihan jenis macapat dan penggunaannya. 

2. Guru gatra: berhubungan dengan jumlah kalimat yang akan dibuat dalam suatu ide tembang. Kalau idenya banyak, misal dalam sebuah cerita, maka satu cerita bisa dibuat dalam beberapa gubahan tembang macapat sejenis.

3. Guru wilangan : berhubungan dengan jumlah suku kata dalam satu baris tembang. Penggabungan dan pembanjangan suatu suku kata dalam menggubah tembang sangat dibutuhkan

4. Guru lagu: berhubungan dengan bunyi vokal dalam suku kata akhir dari suatu baris. Kemampuan memilih atau membalik kata menjai hal penting juga. Contoh, pada Kinanthi seperti “Anoman sampun malumpat” karena memperhatikan guru lagu ini maka gatra itu berubah menjadi “Anoman malumpat sampun”.

5. Diksi (pilihan kata) adalah kemampuan memilih kata-kata yang digunakan dalam tembang. Orang yang memiliki kosa kata bahasa Jawa minimals kan kesulitan dalam melakukan proses penggubahan. Pasti hambar dan tidak ‘pas’ tembang itu bila penggubahnya gak menguasi sinonim untuk menyampaikan suatu ide.

6. Koherensi, adalah berhubungan dengan alur pikir dalam satu gubahan tembang. Urutan gatra dalam satu pada (lagu) sangat ditentukan oleh logika penggubahnya. Karena itu tata alur pikir harus mengalir dalam satu tembang itu.

Beda dengan gubahan untuk lagu-lagu modern, tembang macapat cenderung mengutamakan bentuk formal daripada aransemen, warna lagu, maupun jenis musiknya. Hal itu disebabkan sudah ada pembakuan dalam melagukannya.Oleh karena itu dalam menggubah tembang macapat dapat dikatakan sulit bila kemampuan dalam 6 hal tersebut tidak ada, namun akan dikatakan mudah, bila kemampuan dalam 6 hal tersebut ada.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Various Categories Used to Describe Culture by Edgar H Schein (2004)

02/02/2010

By Suryanto

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

 

Culture is abstract. sometime we got any difficulties in made a definition. When I read  a book organizational culture and Leadership written by Edgar H Schein (2004) I got various categoies used to describes Culture. Here are the definitions. Hope you got information from that.

 

1.      Observed behavioral regularities when people interact: the language they use,the customs and traditions that evolve, and the rituals they employ in a wide variety of situations (Goffman, 1959, 1967; Jones, Moore, and Snyder, 1988; Trice and Beyer, 1993, 1985; Van Maanen, 1979b).

2.      Group norms: the implicit standards and values that evolve in working groups, such as the particular norm of “a fair day’s work for a fair day’s pay” that evolved among workers in the Bank Wiring Room in the Hawthorne studies (Homans, 1950; Kilmann and Saxton, 1983).

3.      Espoused values: the articulated, publicly announced principles and values that the group claims to be trying to achieve, such as “product quality” or “price leadership” (Deal and Kennedy, 1982, 1999).

4.      Formal philosophy: the broad policies and ideological principles that guide a group’s actions toward stockholders, employees, customers, and other stake-holders, such as the highly publicized “HP Way” of Hewlett-Packard (Ouchi,1981; Pascale and Athos,1981; Packard, 1995).

5.      Rules of the game: the implicit, unwritten rules for getting along in the orga-nization; “the ropes” that a newcomer must learn in order to become an accepted member; “the way we do things around here” (Schein, 1968, 1978; Van Maanen, 1979a, 1979b; Ritti and Funkhouser, 1987).

6.      Climate: the feeling that is conveyed in a group by the physical layout and the way in which members of the organization interact with each other, with customers, or other outsiders (Ashkanasy, Wilderom, and Peterson, 2000; Schneider, 1990; Tagiuri and Litwin, 1968).

7.      Embedded skills: the special competencies displayed by group members in accomplishing certain tasks, the ability to make certain things that gets passed on from generation to generation without necessarily being articulated in writing (Argyris and Schön, 1978; Cook and Yanow, 1993; Henderson and Clark, 1990; Peters and Waterman, 1982).

8.      Habits of thinking, mental models, and linguistic paradigms: the shared cognitive frames that guide the perceptions, thought, and language used by the members of a group and taught to new members in the early socialization process (Douglas, 1986; Hofstede, 2001; Van Maanen, 1979b; Senge and others, 1994).

9.      Shared meanings: the emergent understandings created by group members as they interact with each other (as in Geertz, 1973; Smircich, 1983; Van Maanen and Barley, 1984; Weick, 1995).

10.  “Root metaphors” or integrating symbols: the ways in which groups evolve to characterize themselves, which may or may not be appreciated consciously but become embodied in buildings, office layout, and other material artifacts of the group. This level of the culture reflects the emotional and aesthetic response of members as contrasted with the cognitive or evaluative response (as in Gagliardi, 1990; Hatch, 1990; Pondy, Frost, Morgan, and Dandridge, 1983; Schultz, 1995).

11.  Formal rituals and celebrations: the ways in which a group celebrates key events that reflect important values or important “passages” by members, such as promotion, completion of important projects, and milestones (as in Deal and Kennedy, 1982, 1999; Trice and Beyer, 1993).

Which descriptions you will take for your research. I think depend on your used in conceptual and operational definitions of  your variables. Thanks a lot.   

SEKILAS MODAL SOSIAL (SOCIAL CAPITAL), APA ITU?

Oleh:SuryantoFakultas

Psikologi Universitas Airlangga 

Modal sosial adalah keterkaitan sosial yang menjadikan seseorang mampu melakukan tindakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Putnam dalam Narayan & Cassidy, 2001) atau “… totalitas sumber daya, aktual maupun virtual, yang berkembang pada individu maupun satu kelompok karena memiliki jaringan dalam periode tertentu atau hubungan yang informal yang saling membutuhkan dan menghormati (the sum of resources, actual or virtual, that accrue to an individual or a group by virtue of mutual acquaintance and recognition) (Bourdiou dalam Narayan & Cassidy, 2001).

Putnam (dalam Narayan & Cassidy, 2001) mendeskripsikan modal sosial sebagai keterkaitan sosial yang menjadikan seseorang mampu melakukan tindakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Putnam (Mohan & Mohan, 2002) juga menegaskan bahwa modal sosial adalah bagian dari kolektivitas, yaitu unsur-unsur dari kehidupan sosial: jejaring, norma, dan rasa percaya (trust).

McKenzie dan Harpham (2006) dengan mengabstrasikan pengertian modal sosial dari Putnam dengan menjabarkan modal sosial sebagai: :       a. Jejaring sosial (sosial networks), jejaring pribadi yang bersifat sukarela

b. Keterlibatan dan partisipasi kewargaan dan penggunaan jejaring sipil,        

c. Identitas kewargaan lokal – rasa memiliki, solidaritas dan kesetaraan dengan anggota kelompok masyarakat,

d. Prinsip timbal balik (resiprositas) dan nilai kooperasi, rasa berkewajiban untuk menolong orang lain dan percaya diri kala mendampingi,

e. Dan kepercayaan (trust) dalam komunitas.

Pengertian dan definisi modal sosial di atas kemudian dapat dijadikan dasar meringkas pengertian modal sosial sebagai aspek jejaring sosial yang dimiliki individu maupun komunitas yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.  

MENGENAL BEBERAPA DEFINISI KONFLIK

Oleh:

Suryanto

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Istilah konflik ini secara etimologis berasal dari bahasa Latin “con” yang berarti bersama, dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik).

Dengan demikian konflik dalam kehidupan sosial berarti terjadinya benturan kepentingan, pendapat, harapan yang harus diwujudkan dan sebagainya yang paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih, dimana tiap-tiap pihak dapat berupa perorangan, keluarga, kelompok kekerabatan, satu komunitas, maupun satu organisasi sosial pendukung ideologi tertentu, satu organisasi politik, suku bangsa maupun satu pemeluk agama tertentu. 

De Dreu dan Gelfand (2008) menyatakan bahwa  conflict as a process that begins when an individual or group perceives differences and opposition between itself and another individual or group about interests and resources, beliefs, values, or practices that matter to.  Dari definisi tersebut tampak bahwa konflik merupakan proses yang mulai ketika individu atau kelompok mempersepsi terjadinya perbedaan atau opisisi antara dirinya dengan individu atau kelompok lain mengenai minat dan sumber daya, keyakinan, nilai atau paktik-praktik lainnya.

Robbins (2001) menyebut konflik sebagai a process in which an effort is purposely made by A to offset the efforts of B by some form of blocking that will result in frustrating B in attaining his or her goals or furthering his or her interests. Dalam definisi ini tampak bahwa konflik dapat terjadi ketika usaha suatu kelompok dihambat oleh kelompok lain sehingga kelompok ini mengalami frustrasi.

Kondalkar (2007) yang mengutip pendapat Thomas menyatakan bahwa konflik sebagai process that begins when one party perceives that another party has negatively affected something that the first party cares about. Proses konflik bermula ketika satu partai mempersepsi bahwa partai lain memiliki afeksi (perasaan) negatif.

Kondalkar (2007) juga melanjutkan bahwa  conflict “as a disagreement between two or more individuals or groups, with each individual or group trying to gain acceptance of its views or objective over others. Dari pendapat ini Kondalkar melihat bahwa konfil merupakan ketidaksetujuan (disagreement) antara dua atau lebih individu atau kelompok yang mana masing-masing individu atau kelompok tersebut mencoba untuk bisa diterima pandangannya atau tujuannya oleh individu atau keompok lain.  

Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa konflik adalah suatu hasil persepsi individu ataupun kelompok yang masing-masing kelompok merasa berbeda dan perdebaan ini menyebabkan adanya pertentangan dalam ide ataupun kepentingan, sehingga perbedaan ini menyebabkan terhambatnya keinginan atau tujuan pihak individu atau kelompok lain.   

TEMBANG MACAPAT DAN WATAKNYA

12/02/2009

Oleh:

Suryanto

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Para pembaca yang budiman, Tembang Macapat sebagai suatu karya sastra Jawa menunjukkan bahwa karya ini sangat luar biasa. Saya melihat bahwa tembang macapat tidak hanya sebagai ekspresi karya seni semata, namun dalam membawakannya pun juga mengandung unsur filosofis yang dalam. Selain bentuk karyanya yang mengikuti suatu  tata aturan yang berdasarkan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan, kelebihan lainnya karya tembang macapat ini adalah penggunaan dari tembang tersebut harus juga disesuaikan dengan  suasana lingkungan dan suasana hati pelantunnya. Dua kata kunci inilah yang menggelitik saya untuk menulis saat ini.

Suasana lingkungan ataua sering dikatakan sebagai setting, menjadi prasyarat bahwa kita harus memilih tembang asmarandana bila lingkungan menuntutnya untuk melakukan perilaku asmara. Selain itu, suasana hati menjadi hal yang sangat penting dalam mengiringi aktivitas perilaku berasmara. Oleh karena itu, pemilihan tembang macapat berdasarkan watak menjadi sangat urgen untuk dilakukan. Kalau ada pilihan yang bervariasi, misalnya 11 macam tembang macapat, mulai dari maskumambang sampai wirangrong (tembang tengaha?), maka pemilihan tembang berdasarkan pada watak ini menjadi prasyarat wajib untuk dilakukan bagi pelantunnya. saya melihat, 11 macam watak itu sudah cukup representatif untuk menjelaskan kehidupan manusia mulai masa konsepsi (dalam psikologi pertemuan sel untuk keturunan) hingga masa meninggal (life span). Bila bandingkan dengan tembang atau nyanyian saat ini, tampaknya macapat jauh memiliki kualitas dan kelas baik dalam penggubahannya maupun dalam penggunaanya.

Kita ambil contohm saja satu tembang macapat, yaitu asmarandana. Macapat satu ini memiliki watak sedih, rindu dan mesra. Suasana sedih ketika kekasih pergi atau mendapatkan halangan, atau suasana rindu saat ditinggal kekasih, dan suasana mesra saat berduaan dengan kekasih, menggambarkan bahwa penggunaan tembang ini tidak seenaknya. Penggubah saat itu sangat tahu persis suasana hati dan proses psikologis ketika emosi diekspresikan dalam tindakan.

Dalam konsep dan teori emosional,   emosi merupakan hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam tubuh sebagai respon terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar (Teori emosi dari James-Lange). Dari teori ini tampak bahwa dalam suasana “asmara” seorang manusia mengungkapkan emosi dan perasaannya kepada makhluk lain akan sangat sesuai dengan situasi, rangsang yang datang dari luar. Kuatnya “ilmu rasa” yang dalam psikologi seringkali dikenal dengan teori emosi, tidak hanya menjadi bagian yang tampak di perilaku, melainkan secara implisit juga melibatkan pikiran dan adaptasi terhadap lingkungan. Karena itu ”ilmu rasa” sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari konsep tembang Jawa.

Dari gejala dan kasus penggubahan dan penggunaan tembang macapat ini saya hanya menilai, ruaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr biasaaaaaaaaaaaa. Subhanallah.

KNOWING METHODS (METODE MENCARI PENGETAHUAN DAN PENGETAHUAN ILMIAH)

11/18/2009

Oleh:

Suryanto

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Para pembaca budiman, kalau tulisan saya sebelumnya membedakan antara pengetahuan dan pengetahuan ilmiah, maka tulisan kali ini akan membahas metode untuk mendapatkan pengetahuan dan pengetahuan ilmiah itu. Tulisan sebelumnya menjelaskan bahwa perbedaan antara pengetahuan dan pengetahuan ilmiah terletak pada metode atau cara memperolehnya. Kali ini saya mau menjelaskan ragam metode pencarian pengetahuan maupun pengertahuan ilmiah itu.

Metode pertama dikenal dengan metode pre-scientifik. Metode ini dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan metode alternatif. Mengapa dikenal metode pre scientifik, karena orang hanya akan mendapat pengetahuan semata, atau orang hanya akan memperoleh keyakinan (tanpa keraguan) dalam melihat realitas. Oleh karena itu hasil dari metode ini adalah pengetahuan biasa (knowledge).

Metode kedua dikenal sebagai metode ilmiah (scientific methods). Metode ini menghasilkan pengetahuan ilmiah atau sanins. Dalam pengetahuan ini ada usaha secara bertahap dengan menggunakan logika yang rasional untuk mendapatkan hubungan sebab-akibat dari suatu realitas. Misal, mengapa gabus terapung diaras air? Tentunya jawaban ilmiah akan dibawa pada perbedaan berat jenis dari air dan gabus. Gabus lebih ringan daripada air.

Metode ketiga dikenal dengan metode khusus (non-scientific methods). Metode ini saya katakan khusus, karena tidak semua orang bisa melakukan metode ini secara berulang. Misalnyanya: ada seorang anak yang meramal kejadian masa datang hanya dengan melihat wajah. Mungkin melihat wajah bisa dilakukan semua orang, namun tidak semua orang memilki kemampuan melihat masa depan dari wajah yang dilihat itu. Hasil dari metode ini antara lain : wahyu, karya seni, karya filsafat, dsb.

Para pembaca, kiranya cukup dulu tulisan ini, semoga membawa kita pada pencerahan ketika diminta membedakan antara metode dalam mencari pengerahuan dan pengetahuan ilmiah. Amiiiiinnnn

PERBEDAAN PENGETAHUAN (KNOWLEDGE) DAN PENGETAHUAN ILMIAH (SAINS)

Oleh:

Suryanto

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Para pembaca blog ini yang budiman, termasuk mahasiswa saya, pengetahuan (knowledge) dan pengetahuan ilmiah (sains) itu berbeda. Istilah ini seringkali membingungkan kita, karena keduanya sama-sama menggunakan kata “pengetahuan” di dalam bahasa Indonesia. Kalau dalam bahasa Inggris, jelas, bahwa yang satu knowledge dan yang lain sains.

Pengetahuan adalah hasil usaha seseorang untuk menangkap suatu realitas ke dalam jiwa hingga hasil tangkapan itu tidak membuatnya ragu-ragu lagi. Obyek realitas itu bisa benda, sifat sesuatu, atau peristiwa dari sekitar kita. Jadi pengetahuan itu tidak menimbulkan keraguan di pikiran pemiliknya.

Pengetahuan ilmiah (sains) adalah pengetahuan yang diperoleh itu diketahui adanya hubungan sebab-akibat (cause-effect). mengapa hubungan sebab akibat itu penting, karena sains hanya diperoleh melalui tahapan-tahapan ilmiah. Tahapan-tahapan ini tentunya akan melalui metode saing.

Oleh karena itu cara memperoleh pengetahuan dan cara memperoleh sains sudah jelas beda. Karena itu paling tidak definisi di atas dapat membantu pemahaman kita antara kedua konsep tersebut.

Semoga berguna bagi para pembaca. Amiiiin

TEMBANG MACAPAT DAN KEINDAHANNYA

11/16/2009

Oleh: Suryanto

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Indahnya tembang macapat dapat dilihat dari sebutannya. yang dibaca papat-papat.

Indahnya tembang macapat dapat dilihat dari  penggunaannya berdasarkan pada candranya

Indahnya tembang macapat dapat dilihat dari guru gatranya (banyak baris)

Indahnya tembang macapat dapat dilihat dari guru wilangannya (banyaknya suku kata tiap baris)

Indahnya tembang macapat dapat dilihat dari guru lagunya (dhong-dhinge swara saben pungkasane gatra)

Indahnya tembang macapat dapat dilihat dari kegunaannya (sinom untuk anak muda, dhandhanggula untuk mendidik)

Indahnya tembang macapat dapat dilihat dari urutannya yang menggambarkan kehidupan manusia (life span)

MEMBANGUN TIM OLAHRAGA / KERJA YANG KOMPAK DAN SUKSES

11/11/2009

Oleh : Suryanto

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Konsep tim kerja teamwork yang kompak dan sukses menjadi impian para pelatih olahraga beregu maupun para bos yang melakukan pekerjaan secara kelompok. Tim yang kompak digambarkan sebagai suatu kesatuan diantara anggotanya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh kelompok / organisasi.

Mengapa Kekompakan dibutuhkan? tim yang kompak berhubungan dengan kepuasan anggota, berhubungan dengan pencapaian tujuan kelompok yang sefektif, dan bahkan efisien. Tim yang kompak juga bisa berhubungan dengan kesuksesan tim.

Bagaimana mengembangkan tim yang kompak itu? Ada beberapa tips yang bisa dilakukan seperti berikut:

1. Setiap anggota tim harus memahami tujuan tim dan menjadikan tujuan tim sebagai dasar semua sikap dan perilaku tim

2. Mengembangkan sikap saling membantu sesama anggota tim yang didasari keterbukaan diantara mereka. Jelasnya tiada dusta diantara anggota tim

3. Mengembangkan komunikasi yang hangat antar anggota maupun pimpinannya / pelatih

4. Setiap anggota harus mengetahui peran dan fungsinya dalam tim.

5. Mengembangkan rasa tanggung jawab diantara anggota dan pimpinan regu

6. Semangat ke’kita-an” harus menggema daripada ke-aku-an

7. Mengembangkan image positif pada diri anggota tim mengenai timnya/kelompoknya

8. Buat bahwa setiap anggota tim sadar akan kontribusi yang diberikan pada tim. Bahkan setiap anggota mengenali bahwa setiap anggota tim itu penting

9 . Sadarkan bahwa setiap bekerja atau bertanding sebagai pemain tim, bukan pemain solo

Semoga tip ini bermanfaat untuk tim olahraga maupun tim werk dalam bekerja. Bagi konsultan yang mengembangkan pelatihan, dengan konsep-konsep dan tim diatas, silakan buat gamenya.

Sukses semua tim, baik tim olahraga maupun tim kerja

PAHLAWAN = PAHALA - WAN

11/10/2009

Oleh : Suryanto

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Para pembaca Blog saya, yang budiman, hari ini adalah hari pahlawan, dan kita sebagai bangsa di negeri ini musti ingat, kemerdekaan yang telah diproklamirkan tahun 45 oleh Sukarno-Hatta bisa hilang apabila tidak ada perjuangan pahlawan lain selama tahun 1945 itu. Surabaya adalah lokasi yang sangat bersejarah itu.

Pahlawan dari kata pahala-wan, artinya orang yang berpahala. Sebagai orang yang berpahala, tentunya kita semua bisa belajar dari mereka ini. Belajar menjadi pahlawan. Bagaimana menjadi pahlawan saat ini? Gampang resepnya adalah kita berusaha seoptimal mungkin untuk kepentingan orang lain. Kita ikhlas menjalankan peran dan fungsi kita di lingkungan. janganlah pernah berhenti menjadi orang baik. Dan janganlah pernah mengharapkan imbalan sepeser pun.

Ini perlu saya ingakan, karena hanyalah orang yang tidak mengharapkan imbalan itu sebenarnya yang pahlawan sejati, dan bekerja demi kemaslahatan orang lain.

Karena itu janganlah berpikir uang, jabatan, karir dan sebagainya bila kita mau menolong orang lain. Hanya karena ibadah semua itu dilakukan, bukan demi uang, melainkan demi Allah swt semata.

Selamat menjadi pahlawan.

« Previous entries